Tuesday, March 6, 2012

Batu Gantung: Kisah Cinta yang Tak Sampai.



Kencan Sondang dan Togar kali ini sangat berbeda dan lebih istimewa dari biasanya. Bagaimana tidak? Togar melamar dia saat mereka sedang berjalan-jalan ke Danau Toba. Kapal yang mereka naiki mendekat pada batu gantung. Memang begitulah biasanya agar para wisatawan bisa mengabadikan Batu Gantung yang melegenda itu di dalam kamera mereka.


Suasana kapal berisik karena para wisatawan di dalam kapal berlomba mengabadikan Batu Gantung tersebut. Tiba-tiba Togar menarik tangan Sondang menuju moncong kapal seolah-olah mereka ingin melakukan adegan titanic. Muka Sondang memerah saat Togar menggenggam erat jemari Sondang dan menatapnya serius.

“Aku ngomongnya di sini saja yach?” Kata Togar.

“Apa?” 

“Aku mau melamar kamu…” Kata Togar tanpa tedeng aling-aling. Sesaat waktu seperti berhenti, kedua mata saling beradu. Angin di Danau Toba yang kencang menyerakkan rambut panjang Sondang.

“Serius” Kata Togar meyakinkan Sondang. “Batu gantung ini akan menjadi saksi cinta kita.”

Sondang terharu dan menatap kearah batu gantung yang melegenda itu. Togar menunggu jawaban dari Sondang tetapi Sondang masih tetap diam membisu tak tahu harus menjawab apa.

“Ayolah…” Togar memohon. Tiba-tiba Sondang mengangguk pelan dan disambut tawa bahagia Togar sambil memeluk Sondang.

“Ini perjanjian kita!” Kata Togar sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya kearah wajah Sondang seperti takut dikhianati Sondang suatu saat. Tangannya merogoh isi kantungnya dan mengeluarkan sebuah cincin sebagai tanda cintanya membuat Sondang tak mampu menahan senyum. Togar menyarungkan cincin itu ke jemari Sondang sambil berkata. “Barangsiapa melanggar perjanjian kita. Nasibnya akan sama seperti batu gantung itu.” Kata Togar horor membuat Sondang takut.

Tiba-tiba kapal bergerak membuat Sondang dan Togar goyah. Kapal akan menuju pinggiran Danau Toba. Togar menarik tangan Sondang kembali ke dalam kapal. Hari itu mereka kembali ke Medan.

Beberapa minggu kemudian Sondang sudah melakukan aktifitas seperti biasa di perkotaan Medan. Hari-harinya yang sibuk pun semakin sibuk karena mempersiapka pernikahannya yang bisa dihitung hari. Sondang dan keluarganya sangat bahagia atas lamaran Togar yang memang Togar adalah orang yang diidam-idamkan Mamaknya untuk jadi menantu.

Terik mentari membakar kulitnya saat dia harus melangkah pulang ke rumah sehabis dari kantor. Di rumah dia disambut Mamaknya yang duduk termenung.

“Kenapa, Mak?” Tanya Sondang sambil mengerutkan keningnya.

“Kok perasaan Mamak tidak enak yah?” Wajah Mamaknya seperti menyimpan se-ton beban.

“Ah, sudahlah Mak. Jangan fikir macam-macam.” Sondang menepuk pundak Mamaknya sambil masuk ke kamar untuk ganti baju.

Malam harinya, Sondang dan Mamaknya baru saja pulang berjalan-jalan. Itu dilakukan Sondang untuk menyenangkan hati Mamaknya yang sedang galau. Mereka sudah disambut Togar yang berdiri di teras rumahnya.

“Masuk ke rumah, yuk!” Kata Sondang. Tetapi Togar menggeleng dan mengisyaratkan untuk tetap di teras saja. Mamaknya masuk duluan.

“Ada apa?” Tanya Sondang karena melihat seperti ada hal yang serius ingin disampaikan.

“Maaf…” Kata Togar pelan.

“Maaf kenapa?” Wajah Sondang seperti ketakutan dan berusaha mengikuti gerakan wajah Togar yang menunduk. Sondang menunggu jawaban tetapi Togar dia membisu. “Hei!” Sondang mengguncang-guncang tubuh Togar. Habis usaha Sondang memaksa Togar bicara sampai Sondang bersimpuh di bawah kaki Togar. Sondang menutupi wajahnya yang menangis.

“Kumohon bicaralah! Aku takut sekali.” Tangis Sondang pelan agar tidak kedengaran Mamaknya di rumah.

Akhirnya Togar kasihan juga lalu membulatkan tekad untuk berbicara serius pada Sondang walau itu akan menyakitkan hati Sondang dan dia. Togar membantu Sondang berdiri dan mengusap airmata di pipi Sondang.

“Maaf telah membuatmu ketakutan.” Akhirnya Togar berbicara. “Per…pernikahan kita batal…”

BLAAARRRR!!! Bagai petir menyambar membuat hati Sondang hancur berkeping-keping dan tak terselamatkan lagi. Spontan Sondang yang emosi mendaratkan tangannya ke pipi Togar. PLAK!!!

“Kenapa? Kenapa kau langgar janji kita!!!” Isak Sondang.

“Maaf… Aku sudah… punya calon yang lain.” Togar terbata. Sekejap kemudian Sondang mencampakkan cincin pemberiannya ke wajah Togar.  Sondang berlari masuk ke rumahnya menahan tangisan apalagi saat dia berpapasan dengan Mamaknya. Hati Sondang seperti dihempaskan dengan kerasnya dari ketinggian kebahagiaannya yang terlebih dahulu muncul.

Keesokan harinya mata Sondang nanar memandangi batu gantung yang ada di depannya. Wisatawan yang lain sibuk untuk foto-foto tetapi Sondang terpana seorang diri. Hari itu dia tidak bekerja setelah kepatahan hatinya yang diperbuat seseorang yang sangat dia cintai.

Tiba-tiba bergema kembali dalam ingatannya suara Togar yang lantang menyatakan. “Barangsiapa melanggar perjanjian kita. Nasibnya akan sama seperti batu gantung itu.” Sondang tak tahan membendung airmata. Ternyata yang menghianati perjanjian itu adalah Togar sendiri. Dia makin sedih bila pulang ke Medan dan tanggal pernikahan sudah dekat. Pada hari H pasti para undangan akan datang dan melihat tak ada pernikahan sama sekali. “Aku harus jawab apa?” Gumamnya lirih.

Matanya melirik air danau toba yang kelam. Menandakan sangat dalam. Sondang berjalan gontai mendekati pinggir kapal. Dan memandangi bayangannya di air itu walau tidak jelas karena ombak.

“Aku ga sanggup… Pun aku ga sanggup menanggung malu…” Mata Sondang terpejam membiarkan tubuhnya terjatuh tetapi tangannya ditahan seseorang yang ternyata sedari tadi telah memperhatikannya. Sondang terkejut melihat sosok di depannya adalah seorang nenek tua penjual kacang.

“Jangan, Nak. Kau masih muda dan cantik pula.” Kata Nenek itu sambil memeluk Sondang yang galau. Beberapa saat kemudian Sondang dan Nenek penjual kacang sudah ada di daratan tepatnya di terminal menunggu bus ke kota Medan. Sondang hanya bisa tersenyum malu mengingat kebodohannya.

“Kalau dia pergi kabur. Berarti dia bukan temanmu, sama seperti aku dulu saat harus keguguran. Aku galau dan hampir bunuh diri. Oppung dolimu bilang bahwa bayi itu tidak mau berteman dengan kita makanya dia kabur.” Nenek yang tak memiliki anak itu mengingat masa lalunya.

“Iya, Pung.” Kata Sondang pelan.

“Kalau kau malu menjawab para undangan nanti. Oppung harap kau kuat yah? Berdoa pada yang di atas.” Nenek itu mengelus rambutnya lembut. Sebentar kemudian Sondang melangkahkan kakinya ke dalam bus dan melambaikan tangan pada si nenek baik tadi.

Getir memang kehidupannya apalagi saat para undangan menunggu di sopo tak ada pesta, bahkan ada yang mengirimi bunga papan yang mengucapkan “Selamat Bahagia” padahal kenyataanya pernikahan itu tak ada. Bahkan di lain tempat Togar sedang bersanding dengan perempuan lain. Kasih tak sampai ini membuat Sondang terpukul. Janji yang gampang terlontarkan membuat seseorang tak malu untuk mengingkarinya di kemudian hari. Namun hidup tetap berjalan, sudah dipasrahkan Sondang lelaki itu untuk wanita lain. Pun dia sudah menghapus segala dendam yang ada.

No comments:

Post a Comment

Silahkan Komentarnya ^_^