Saturday, September 24, 2016

Alay dengan Mayat di Media Sosial


Halo, Semuaa... Lagi ngapain? Lagi ngedate? Lagi makan? Lagi online? Online apa? Atau sedang online di facebook dengan kesedihan tingkat setan? Wohowww... Kali ini aku bukan mau membahas keresahan kalian, kok. Hari ini aku mau bahas keresahan aku dengan orang-orang yang aku temui di Facebook. Tadi pagi aku lihat di timeline aku si Jiggong posting photo sosok jenazah, dijepret kiri, dijepret kanan, dijepret depan. Kemudian dia menuliskan kesedihannya karena sudah ditinggal almarhumah yang ternyata adalah sahabatnya.
Aku sedikit mengernyitkan dahi. Btw, si Jiggong yang aku maksud ini sudah memiliki kebiasaan memposting apa saja yang terjadi dalam hidupnya. Dan sudah 3x lebih aku lihat dia memposting photo jenazah sahabatnya (jenazah yang berbeda-beda) di Facebook. Uuummm, posting seperti itu untuk apa? Supaya dibilang, "Wah, ini kisah sahabat yang baik yang sangat peduli pada almarhum walau sudah meninggal." Hey! Kau tak akan dibilang baik hanya karena posting photo seperti itu.
Dulu sekali, pada tahun 2010 aku kehilangan Oppung Doli. Mamak suruh untuk photo Oppung saat dirawat di rumah sakit untuk kenang-kenangan. Beberapa hari kemudian aku pun mengganti wallpaper HP dengan photo Oppung Doli di rumah sakit. Saat melihat itu, Mamak langsung marah. "KAU INI. ORANG LAGI SEKARAT DIPAJANG-PAJANG! PANTANG ITU! KAYAKMANA KAU KALO LAGI SEKARAT DIPHOTO-PHOTO GITU. SENANG!!!"
Pada saat itu saya sadar, bahwa hal itu adalah salah. Mengganti wallpaper saja aku sudah dimarahin abis-abisan sama Mamak. Gimana kalau Mamak kenal sama si Jiggong? Bisa-bisa makin mengamuk Mamak. Tenang! Tenang! Kabar gembiranya Jiggong bukan anak Mamakku. Hahaha....
Balik lagi ke persoalan si Jiggong ini, aku langsung klik 'Laporkan' di Facebook mengenai postingannya yang terlalu alay itu. Wah, sealay-alaynya manusia, masih ada yang lebih alay yaitu si Jiggong yang posting photo jenazah. Mungkin jika Tuhan kasih kesempatan semenit si Jenazah untuk hidup dan protes kepada si pengunggah photo. Dia akan marah, menangis dan suruh untuk menarik postingan si Jiggong dari Facebook. Mungkin, lho!
JIKA MEMANG INGIN POSTING PHOTO, PASTIKAN JENAZAHNYA MENGHENDAKI
Bijaklah dalam memposting sesuatu di media sosial. Jangan hanya untuk meraih like dan comment yang banyak apa saja jadi diunggah ke media sosial. Pikirkan bagaimana kejadian yang menimpa di dalam photo itu adalah kebalikannya. Apa si Jiggong ikhlas diumbar kejadian yang baru saja menimpa dirinya? Gak mau, khan? Ingat! Kematian itu adalah hal yang sangat sensitif bagi keluarganya. Jangan sampai keluarganya keberatan akan postingan-postinganmu itu.
Nilai negatifnya adalah para pengguna media sosial akan meramaikan postinganmu. Dan di antara semua, belum tentu orang-orang itu turut bersedih juga, melainkan bisa saja sebagian hanya sekedar kepo. Jika benar sahabat dan ingin mengungkapkan kesedihan atas kematian sahabat gunakan saja kata-kata yang mungkin bisa menyemangati keluarga yang ditinggalkan. Tapi kalau memang ingin posting kesedihan sedetil-detilnya, mengapa tidak memasang photo terbaiknya semasa hidup?

Review Eyeliner Oriflame Pure Color Kajal

Hai, Cantik. Gimana kabarnya? Makin cantiks dongs... Hehehe... Kali ini aku mau tulis review eyeliner dari Oriflame 'Pure Color Kajal'. Yaps.

Saturday, July 30, 2016

Review Lipstik JustMiss B02 No. J24 dan Eyeshadow Blusher No. 04 (LocalBrand)


Hai, princess. Udah lama ga nge-blog lagi, dan kini aku bakalan nge-blog lagi yawww. Mungkin dulu-dulu aku hobby bikin tulisan fiksi, sekarang aku mau nulis sesuka aku. Yap! Aku kali ini mau review salah satu lipstik merek lokal yang udah melegenda (Azekkk), ini awal dari aku liat IG-nya Fidellia Haris yang lagi pake lipstik merek lokal yaitu JustMiss. Langsung deh aku uber ke website-nya yaitu justmisscosmetics.com dan langsung ngiler liat semua.
Selain harganya yang merakyat, kualitasnya juga lumayan lho, Princess... Aku bilang gini gara-gara aku udah pakai, hehe. Akhirnya beberapa hari yang lalu aku pesan eyeshadow blusher Justmiss No. 04 dan Lipstik Justmiss B02 No. J24. 
Ini penampakannya...



Dikirim Abang-abang JNE

Monday, August 4, 2014

Dasar Kau Monyet

Okey... Saatnya kita bergalau-galau ria. Mengingat tinggal hitungan hari lagi saya mengakhiri masa kekanak-kanakan saya... Halahhh... Emang gitu sich biasanya kalo mau nambah umur selalu berekspektasi meninggalkan sifat kekanak-kanakan terutama moody yang ga jelas. Terutama masalah hati. APA??? HATI LAGIII???

Huft... Masih ingat beberapa tahun yang lalu waktu masih remaja-remajanya saya (masa kuliah), waktu itu aku lagi galau sekali, sampe lagu-lagu yang aku dengar pun lagu galau semua. Hahhh... Ada seorang teman Kompasiana saya yang sering saya panggil Grendung (Grenpa Kandung) nasehatin saya, "Jadi cewek itu jangan cengeng. Kalo cengeng gara-gara cowok. Anggap aja dia itu jelek kayak monyet. Masak galau karna monyet???" <<<<==== Kira-kira kek gitu  naseaht Grendung ke aku, (Udah rada-rada lupa aku soalnya)

Okelah. Monyet jelek yang sok tampan, aku sungguh sangat ga peduli sama kamu. Kutu kupret. Kau kira kau siapa? Cowok ganteng? Segalanya? Bisa apa kau? Kamprettt. Ih... Nyesal kenal kau!!! Tapi mungkin kau mikir aku senang ketemu kau!!! Hooweeekkk... ENGGAK!!! Kalo aku nekat rasanya pengen lempar bata sama kamu. Kamu udah mengacaubalaukan masa-masa beranjak dewasaku yang indah!!! Aku ga suka... Ga usah GE-ER yahhhh!!!! KENAPA KAMU ADA DALAM KEHIDUPANKU???? :(

Sekian, maki-makian saya ini. Sebenarnya tulisan ini khusus untuk laki-laki yang sok keren yang lagi pengen saya maki-maki, tapi kalo bilang langsung pasti akan jadi masalah. Jadi mending kesalnya di blog ajahhhhh.... :P

Oke, makasih Grendung karena sudah memperjelas ga ada laki-laki yang ganteng itu, kita bisa bikin mereka kapan aja jadi monyet... Hiks *LapAirMata :(

Wednesday, June 18, 2014

Jodoh Itu...

Beberapa hari yang lalu aku pulang ke rumah, iya rumah, rumah yang selama ini aku rindukan, bukan mess yang mengurung aku selama setahun lebih, zzzzz, tapi rumah. Yang di dalamnya ada orang-orang yang sangat aku cintai. Okey, mungkin aku datang dengan kondisi yang bisa dibilang masih anak kecil. Bisa apa sih aku ini? Masih jauh di bawah standart menyenangkan orang tua, whatever, yang terpenting udah ketemu mereka-mereka...

Monday, May 12, 2014

Catatan Anak Rantau


Udah hampir setahun juga berjuang bertahan hidup di tano parserakkan ini. Yang aku tahu, harus lebih fight pada keadaan apapun itu. Jujur aja, sebenarnya merantau inilah titik awal dimulainya perjuangan bertahan hidup sesungguhnya. Dari yang dulu masih minta uang jajan dari ortu sekarang harus berpikir dewasa bagaimana agar semuanya bisa terbagi dan serba cukup. Apalagi dulu pertama kali merantau dan terima gaji pertama, keluarlah kata-kata "Harus bisa membagi-bagi uang yang sebenarnya ga bisa dibagi". Hahahaha... Ngeri-ngeri sedaplah pokoknya... :)
Well, biarlah aku curhat panjang lebar di blog terdahsyatku ini. Toh, ini blogku, suka-sukaku dong... #Gaje. Di tanah rantau yang sebenarnya ga jauh-jauh banget dari kampung halaman saya, eng ing eng Smoke City gitu lhoooo, aku telah ditempah menjadi gadis yang harus lebih dewasa. Di sini saya mengenal segala sesuatunya dengan sendiri. Banyak kejutan-kejutan di sini, entah itu masalah pekerjaan, masalah keuangan, masalah pertemanan dan yang terakhir masalah percintaan (Uh). 

Saturday, April 12, 2014

Puisi Cinta (Bahasa Batak)

Ho do na huhaholongi sian parjolo pajumpang
Denggan ni basami dohot uli ni rupami
Serep ni rohami dohot panganjumi tu au
Namambahen siholhi dang marnasuda
Sai ro do ho tu nipiki ganup borngin
Sai busisahon do au molo dao sian ho

Ho do nahuparsinta tingki lambok ni hatami mangarahut rohangki
Gomos hutangiangkhon asa sikkop nahuparsinta
Situtu do di rohangku namanghaholongiho, oh ito si denggan basa...
Ai nga gabe balga siholhi dukkon hutanda ho
Ai ias do rohangku tu ho songon 'bottar ni bajumi'

Manganju ma ho tu au, ito...
Sai holan tu ho do habang pikiranki, Ito...
Ho na ma di au, na lao mamboan au tu dalan na denggan
Unang bahen tarpaima au ito, Unang gabe malungun au itooo....
Boan ma au jonok tu holongmi...
Sasada ho do, Hasian....

 *baru  belajar bikin puisi bahasa batakkk

Wednesday, April 9, 2014

Nulis Dikit

Pernah keranjingan nulis sampe lupa waktu. Waktu SD nulis di buku 30 lembar dengan kualitas tulisan anak-anak yang cukup jelek. Terus waktu kuliah keranjingan nulis di media sosial, kayak di Kompasiana atawa blog Celoteh Bodoh ini sendiri. Kayaknya ada perasaan bangga yang teramat sangat begitu memposting tiap tulisan dengan bahasa ABEGE pada kala itu... :D Apalagi begitu liat view dari tulisan itu cukup banyak malah kelewat banyaaaakkkk (Bangga!!!!). Kayaknya serasa penulis gitu, lhooooooo... :P Pokoknya menulis itu mengasyikkanlah, sampe bikin lupa mandi, lupa makan, bahkan lupa tidur.

Sekarang mimpi jadi penulis itu masih tersimpan rapih di dalam hati. Jadi ingat temanku Priska yang dulu dia udah kerja waktu aku masih kuliah, terkadang aku bingung kenapa dia bisa-bisanya ga mau nulis lagi alias malas nulis lagi. Hmmm, ternyata karna kesempatan waktu yang ga ada. Sekarang aku merasakannya, aku udah kerja, aku udah punya tanggung jawab, aku udah stress eeehhh, maksudnya aku udah harus memberat-beratkan pikiranku sendiri untuk hal-hal yang memang harus mandiri. Semua serba mandiri, apalagi tinggal merantau jauh dari orang tua. Merana sendiri dwehhhh... ;(

Gimana bisa nulis kalo gitu ceritanya, ini aja nulis dikit udah jago amat. Walaupun dalam hati udah mikir kalo bahasa dari tulisan ini udah basssiiiii, ga selugas yang dulu lagi. Gak ceplas-ceplos yang dulu lagi. Maklumlah udah menahun ga nulis. Haiksss... Padahal dulu mosting tulisan sampe 3 postingan aja bisa. Sekarang? Haiks, ga pedeeee.... :(

Ditambah lagi aku lupa sama password beberapa akunku apalagi akun Kompasianaku #garukaspaaallll.... Kejam dunia... Apa aku ditakdirkan untuk gak nulis lagi? Masa iya? AKu masih mampu, lho? Buktinya ini aku masih bisa nulissss.... Kapan lagi ya aku pecicilan di media sosial mengomentari tulisan kompasianer yang lain? Kapan lagi yah aku berimajinasi cukup lama untuk bisa bikin cerpen atau puisi patah hati, patah tulang... Atau apalaaahhh, Dan kapan cita-citaku bisa bikin novel tercapai kalo begini??? :(

Well, hidup masih harus terus berlanjut. Mungkin ga sekarang, mungkin besok-besok ajahhh. Mungkin Tuhan lagi menunjukkan ke aku bahwa masih banyak yang harus aku proiritaskan dalam hidupku. Mungkin bukan cari jodoh, mungkin aja Tuhan ngasih jodoh ke aku tunggu aku mapan dulu #haalaaaahhhh.... Mungkin Tuhan nunjuk aku untuk lebih tanggung jawab setidaknya dalam hidup. Mungkin Tuhan lagi mau menyadarkan aku bahwa aku udah tua ga abg lagi #haikkksss.... Menulis itu terkadang menyita waktu yang sangat banyak, jadi bakalan berantakan kerjaanku kalo aku nulis terus. Okelah, gapapalah kalo aku harus ilang ingatan sama password emailku yang banyak itu (karna udah lama ga dipake). Setidaknya masih ada blog yang sisa satu, yang bisa aku coret-coret kalo lagi ada waktu... Yuhuuuyyyy... :P

Aku jarang nulis tapi, aku masih suka nulis, yaaahhhhh... Jangan hapus aku dari daftar orang-orang suka nulis sampe lupa mandiii.... Wkwkwkwkwkk.... Okelah, saatnya aku numpang narsisssss...  Posting poto yang kece (Aku yang seksi itu, lho... Wkwkwkwkwkkwkwkwkk..... #Pitnnaaahhhh)



Thursday, January 10, 2013

Aku Gak Perawan, Emang Salah Banget???

Cerita ini bukan hanya tentang keperawanan semata, melainkan tentang persahabatan yang tak berkesudahan… :)
Cekidoootttt…!!!
***
Aku Vika anak SMA yang masih sangat labil bisa juga dibilang badung. Anak yang murung berada di sampingku ini adalah sahabat baikku. Namanya Audrey. Di balik kemurungannya dia itu sebenarnya sangat cantik. Tetapi kisah hidupnya yang memilukanlah membuatnya berlaku seperti itu. Kami berdua sudah bersahabat sejak  TK hingga SMA, kami selalu duduk di bangku yang sama.
Jika jaman sekarang banyak orang yang gagal dalam bersahabatan tidak demikian dengan aku. Aku sangat menjaga persahabatanku dengannya, sekali pun kenyataannya banyak yang mencaci Audrey. Aku sangat menyayangi Audrey seperti aku menyayangi Mama dan kedua kakakku. Audrey pun begitu, meski tanpa ekspresi namun dia sangat menyayangiku.
“Sahabat selamanya?” Begitulah dia bertutur bila melihat aku sedang jengkel dengannya. Rasa jengkelku pun hilang dan aku memeluknya dengan hangat.
Hidup Audrey tidak seenak diriku. Hidup Audrey penuh dengan konflik, hingga sekarang konflik itu tidak ada lagi namun meninggalkan akibat bekas konflik yang tak dapat disesali lagi. Audrey itu adalah anak tunggal, Audrey lahir di saat Mamanya sudah menginjak usia 45 tahun. Tua sekali bukan? Audrey-lah anak yang sangat dirindukan oleh Mamanya. Tetapi tidak begitu dengan Papanya. Papanya hampir membunuh Mamanya karena melahirkan anak perempuan. Papanya berharap akan mendapatkan anak laki-laki ternyata tidak. Selama tujuh tahun Audrey disiksa oleh Papanya. Sampai akhirnya Mamanya memilih untuk bercerai dari Papanya karena tidak tahan.
Akhirnya Mamanya menikah lagi dengan pria yang ternyata tidak tulus mencintai Mamanya, Papa tirinya itu hanyalah melihat harta saja. Bukan cinta, awalnya aku mengira Audrey tidak mengapa-apa karena Papa tirinya itu juga tidaklah jahat atau suka main pukul.
“Papa tiri kamu itu baik khan?” Tanyaku suatu ketika.
“Lumayanlah. Walaupun orangnya boros yang penting tidak melakukan kekerasan.” Jawabnya.
Tetapi semua itu berubah ketika aku dan Audrey pergi ke salah satu supermarket. Kami sering berbelanja bersama sekali sebulan. Membeli bedak, lotion bahkan pembalut. Pokoknya kebutuhan ceweklah. Yang aku herankan saat Audrey tidak lagi membeli pembalut.
“Kenapa?”
“Masih banyak sisa di rumah…”
Sesungguhnya aku heran. Karena jika Audrey lagi datang bulan dia membutuhkan pembalut sampai 5 bungkus. Kenapa sekarang bisa-bisanya dia mengatakan masih banyak di rumah?
Keaneh-anehan mulai terjadi, tetapi aku masih meredam keingintahuanku. Hingga suatu saat…
“Aaarrggghhh!!!” Pekik Audrey di dalam toilet. AKu yang sedang buang air kecil di toilet yang berada di sampingnya pun segera berlari dan menemuinya.
“Kenapa???” Tanyaku kebingungan namun dia tak menjawab wajahnya pucat sekali. Di tangannya ada benda kecil berwarna putih dan dia segera memasukkannya ke dalam kantung roknya. Namun sebelum itu terjadi aku segera merampasnya.
“Ini apa?” Tanyaku.
Dia diam membisu, wajahnya pucat sekali dan dia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk aku. Dia belum juga menjelaskan padaku. Aku marah lalu mendorongnya ke dinding toilet.
“Kamuuu… Kamu hamiilll….” Pekikku.
“I… Iya…” Dia tertunduk.
Awalnya aku ingin membenci dia. Karena aku kecewa dia melakukan hal yang tak seharusnya. Aku pikir dia gadis baik-baik. Ah, aku kecewa sekali… Tetapi aku merasa orang paling jahat di dunia setelah dia memberi penjelasan. Ternyata… Ternyata Papa tirinyalah yang memperkosanya. Dia diperkosa saat keadaan rumah sangat sepi dan Mamanya sedang tidak berada di rumah. Oh, menyedihkan sekali nasib sahabatku ini… Aku minta maaf padanya dan menyemangatinya tidak lupa aku menyarankan agar dia tidak menggugurkan kandungannya. Karena biar bagaimana pun itu adalah perbuatan dosa.
“Tapi aku sekolah…”
“Kalau kamu gugurin aku marah besarrr… Plis jangan gugurin.” Aku memberi perigatan padanya sambil membesarkan kedua bola mataku.
Semenjak saat itu seluruh sekolah mengetahui kabar kehamilan Audrey dan semua mengolok-oloknya. Akulah selalu berdiri di barisan depan jika ada orang yang menjelek-jelekkannya. Aku bahkan akan main tangan pada mereka jika sudah keterlalu sampai membuat Audrey menangis. Aku tak peduli dikatakan perempuan yang jahat. Terserah! Walau memenag pedih kita aku dan Audrey diejek lagi menjadi sepasang lesbi.
“Kabarnya kamu hamil. Orang hamil mana bisa sekolah. Dikeluarkan lho.” Ejek Cindy pada Audrey yang terpojok di sudut kelas.
“Kalo ga ada bukti jangan nyolott…” Makiku sambil menepis tangan Cindy yang hampir meraih kerah baju Audrey.
“Ga ada sih. Cuman denger2 aja. Siap-siap aja dikeluarin dari sekolah ini.” Kata Cindy. “Dasar perempuan kotor…!!!” Makinya.
Audrey diam tak melawan. Semenjak saat itu teman-teman sekelas memusuhi aku dan Audrey, mereka semua menganggap diri mereka suci. Memangnya kesucian dinilai dari keperawanan? Terus, apa TUHAN pilih-pilih mengakui anakNya. Tuhan ga bakalan pernah bilang, “Vika… Kamu perawan ato enggak? Kalo engga noh pergi jaooohhh…” Tuhan ga bakalan pernah bilang begitu. Jadi perawan aja musti sebangga itu terus jelek-jelekin sahabat aku?
Aku sering menginap di rumah Audrey setidaknya menemaninya dalam kesunyian. Kasihan Mamanya sudah terkena stoke semenjak perceraiannya dengan Papa tirinya. Aku selalu menyemangati Audrey sahabatku, walau sebenarnya aku tak memungkiri ada kebosanan dalam hatiku masakkan aku harus menemaninya dicaci terus? Tetapi aku berusaha untuk tegar bersahabat dengannya.
“Sekali-kali kamu lawan Cindy dong. Jangan mau diejek melulu…”
“Aku gak berani…” Katanya sambil tertunduk. “Vik… Sebenarnya aku…” Katanya terbata-bata.
“Aku apa???” Tanyaku penasaran.
“Uumm… Tapi kamu jangan marah yah?” Audrey kelihatan takut sekali menatapku.
“Iya…. Tapi apa dulu?” Aku tak sabaran menunggu kata yang akan dikeluarkan Audrey.
“Aku… Maaf… Aku gugurin bayinya….”
BLAAARRR!!! Bagai petir di siang bolong. Aku tidak menyangka temanku melakukan itu padahal sudah aku peringatkan. Audrey terlihat ketakutan dan menunduk. Aku yang kecewa dengan Audrey akhirnya berbalik badan dan berlalu sambil berkata…
“Aku kecewa…” Kataku dengan nada bergetar.
“Jangan pergiiii… Pliisss….” Audrey menangis sambil menahan tanganku.
Tiba-tiba hujan mengguyur dan kami pun basah di tengah lapangan basket sekolah itu. Tak ada niatku untuk berlari karena hujan. Airmata dan hujan bercampur menjadi satu.
“Kamu mau bilang apa lagi? Aku kecewa. Aku cuman ga mau kalo kamu itu berdosa. Itu aja…” Kata sambil menunjuk-nunjuk kearah mukanya.
“Maaf… Kamu tau khan kalo Mama aku stoke hanya karna mikirin aku. Aku sayang kamu tapi aku juga sayang Mama. Tapi kalian berdua itu bukan pilihan. Aku ga bisa milihhhh… Tapi sewaktu aku liat Mama nangis-nangis karena aku gak mau menggugurkannya hatiku pedih banget… Plisss… Ngerti dong…”
“Tapi….” Perkataanku segera dipotong.
“Kamu tau? Di dunia ini aku hanya punya dua orang yang sangat aku cintai. Mamaku… Dan kamu…” Audrey menangis sambil memeluk aku. “Kalo kamu pergi dan berubah sikap kayak Cindy… Lebih baik aku matiiii…” Tangisnya. “Maaf… Maaf kalo aku gugurin. Tapi ini hanya karena Mamaku pengen masa depanku baik-baik aja… Plis jangan tinggalin aku…”
Hatiku terenyuh mendengar penjelasannya, aku yang ingin kabur dan meninggalkannya dengan sangat egois kini berbalik memeluknya erat. Audrey sahabatku, aku gak mau bersahabat hanya karena persahabatan dalam keadaan baik-baik aja. Aku mau bersahabat tetapi tetap setia walaupun dalam keadaan buruk sekalipun. Aku mau jadi sahabat yang tau diri. Itu aja… Aku sayang Audrey.
“Aku ga tau seberapa banyak dosaku…” Tangis Audrey menyesal karena dihimpit pilihan yang menyakitkan.
“Udahlah…” Aku menepuk-nepuk pundaknya.
Waktu berlalu begitu cepat. Dan tetap saja teman-teman sekolah mengejek-ejek Audrey kali ini dengan sebutan yang menyakitkan ‘Cewek bekas’ yang lebih mengejutkan lagi teman-teman sudah tahu kalau Audrey ternyata diperkosa Papanya.
“Rumah tangga broken home… Makanya lu diperkosa… Wkwkwkwkwk” Tawa Cindy. Aku sangat terkejut mendengar ejekan Cindy pada Audrey dalam hitungan detik. PLAK! Aku menampar Cindy dan mendorongnya ke dinding.
“Omongan kamu itu kok kasar banget, sich?” Bentakku.
“Biarin…” Jeritnya sambil memegangi pipinya yang merah.
Tiba-tiba Audrey mendatangi Cindy dan menamparnya juga. Di terlihat lebih tegar dari biasanya yang selalu pucat pasi.
“Itu untuk penghinaan kamu selama ini…” Pekiknya di depan muka Cindy. “Kamu pikir seberapa hebat kamu karena perawan? Kelakuan kamu lebih hina dari akuuuu!!!” Pekiknya membuat Cindy harus menutupi telinganya. “AKU MEMANG GAK PERAWAN LAGI!!! TERUS KENAPA??? SALAH BANGET YAH!!!” Jeritnya sampai seluruh kelas mendengarnya.
“Kamu tau? Aku ini diperkosa!!! Bukan keinginan aku. Ini udah cukup sakit. JANGAN KAMU TAMBAHIN LAGI!!!” Pekiknya meluapkan kekesalan beberapa bulan ini.
Aku terkejut mendengar penuturan Audrey yang blak-blakan.
Semenjak saat itu tak ada yang suka-suka bicara pada pada Audrey. Justru semuanya malu pada diri sendiri. Bingung juga! Memangnya perempuan dinilai dari keperawanannya? Jadi kalau sudah tidak perawan lantas dihina-hina? Dimaki-maki? Semua layaknya Tuhan. Aku benci sekali mereka menghina sahabat baikku ini.
Sampai kami duduk di bangku kuliah, Audrey memiliki kekasih saat kekasihnya tahu Audrey tidak perawan lagi. Kekasihnya memutuskan Audrey. Sudah berkali-kali Audrey begitu Sebenarnya dia sangat sedih namun dia berusaha menutupi kesedihannya dari aku.
“Tenanglah sobat… Suatu saat kamu dapat laki-laki yang benar menyayangi kamu. Tanpa memandang kekuranganmu.
Dan benar saja akhirnya dia mendapatkannya. Dan saat aku melihatnya di pelaminan aku hanya bisa tersenyum. Sekarang orang yang dicintainya bertambah satu, pikirku.Mamanya, Aku dan suaminya…
Sekarang kami sudah berumah tangga. Dan aku bahagia bisa bersahabat dengannya tanpa memandang kekurangnnya. Aku ingin lebih dekat lagi dengannya. Namun semua itu tak mungkin, karena kami telah memiliki kehidupan masing-masing. Dia lah sahabatku… Sahabat yang tegar… :)

Sunday, December 9, 2012

#PostCard : Cita-cita, Friska dan Kota Bandung


Dear Friska,

Kau memang manis, Teman. Apalagi saat kau bersusah-susah menulisi aku surat dan menyelipkan hadiah manis untuk kau kirimi sebagai hadiah ulang tahunku. Aku dan kau memang ditakdirkan sebagai sahabat. Kau suka menulis, aku pun demikian. Kau suka bermimpi, aku pun demikian. Bahkan tanpa malu-malu kita pernah berharap menjadi penulis besar. Itu sangat manis teman.

Friska, kini usaiku sudah 21 tahun dan sebentar lagi kau juga akan 21 tahun. Mungkin kita sudah mulai tercekik oleh mimpi-mimpi yang sempat kita oceh-ocehkan di emperan Ramayana itu sambil menunggu hujan berhenti. (Kita bagaikan pengemis saja, hahaha…). Sesungguhnya, aku takut dengan ocehan-ocehan kita itu. Apa benar semua mimpi yang kita keluarkan tanpa malu sedikit pun itu akan terealisasikan? Merantau ke Bandung setelah lulus? Kota terkeren dalam pikiran kita berdua.